Dari Kampus ke Matras, Pesilat ISI Surakarta Buktikan Kualitas
ISI Surakarta Raih 4 Emas di Piala Panglima TNI 2026
Perolehan ISI Surakarta dirapikan menjadi 4 medali emas dan 3 perunggu; Aisdiansyah Ardy Ibrahim meraih dua emas pada nomor berbeda.
SIGAPJATENG | SURAKARTA — Sebuah medali tidak pernah lahir hanya dari beberapa menit pertandingan. Di balik kemenangan seorang pesilat terdapat latihan berulang, disiplin, keberanian menghadapi lawan, sekaligus kemampuan menjaga konsentrasi ketika tekanan pertandingan mencapai titik tertinggi.
Cerita itu hadir dalam Kejuaraan Pencak Silat Piala Panglima TNI 2026 yang berlangsung di GOR Indoor Manahan, Surakarta, 11–13 September 2026.
Di antara ribuan peserta dari berbagai daerah, Tim Pencak Silat Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mampu membawa pulang tujuh medali, terdiri atas empat emas dan tiga perunggu.
Capaian tersebut menjadi catatan penting bagi pembinaan olahraga di lingkungan perguruan tinggi seni. Para mahasiswa tidak hanya ditempa melalui ruang akademik, tetapi juga memiliki kesempatan mengembangkan kemampuan fisik, mental, kreativitas, dan sportivitas melalui pencak silat.
Empat Emas dari Lima Penampilan Juara
Empat medali emas ISI Surakarta diraih melalui penampilan yang menunjukkan keberagaman kemampuan pesilat.

Frian Abadi menyumbangkan emas dari nomor Tanding Kelas C Dewasa Putra.
Sementara Aisdiansyah Ardy Ibrahim menjadi salah satu nama yang paling menonjol. Ia berhasil meraih dua medali emas, masing-masing melalui nomor Tanding Kelas C Dewasa Putra dan Seni Tunggal Dewasa.
Emas berikutnya dipersembahkan Savina Dwi Agnezya W melalui nomor Tanding Kelas C Dewasa Putri.
Sementara Abdul Dhohir Aulia meraih emas pada Tanding Kelas B Dewasa Putra.
Dari tujuh medali yang diraih, tiga lainnya berupa perunggu. Medali tersebut masing-masing disumbangkan Adi Dwi Permana melalui nomor Solo Kreatif Dewasa Putra, Fadilla Nanda Pramesinta pada nomor Solo Kreatif Dewasa Putri, serta Ilham Meirizal Pratama pada nomor Tanding Kelas D Dewasa Putra.
Raihan itu menunjukkan bahwa kekuatan tim ISI Surakarta tidak hanya bertumpu pada satu jenis pertandingan. Ada atlet yang bertarung dalam kategori tanding, sementara lainnya mengandalkan kemampuan seni dan kreativitas gerak.
Piala Panglima TNI Bukan Sekadar Perebutan Medali
Kejuaraan Pencak Silat Piala Panglima TNI 2026 digelar selama tiga hari di GOR Indoor Manahan. Kompetisi tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 TNI, sekaligus menjadi ruang pembinaan dan penjaringan atlet potensial.
Sebanyak 1.750 atlet ambil bagian dalam kompetisi yang mempertandingkan sejumlah kategori, mulai usia dini, pra-remaja, remaja hingga dewasa, termasuk kategori khusus TNI/Polri.
Kejuaraan dibuka secara resmi oleh Danrem 074/Warastratama Kolonel Inf M. Arry Yudistira, Jumat (11/9/2026). Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong dan dihadiri unsur terkait.
Dalam amanat Panglima TNI yang dibacakan pada pembukaan, pencak silat ditempatkan bukan hanya sebagai olahraga prestasi, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya bangsa yang perlu terus dilestarikan.
Pesan tersebut menjadi penting karena perkembangan pencak silat tidak cukup hanya diukur melalui jumlah kejuaraan. Regenerasi atlet, kualitas pembinaan, karakter, serta kemampuan mempertahankan warisan budaya juga menjadi bagian dari perjalanan olahraga tersebut.
Ketika Mahasiswa Membawa Nama Kampus
Bagi atlet ISI Surakarta, pertandingan di Manahan menghadirkan tantangan yang berbeda dari rutinitas perkuliahan.
Di kampus, mereka belajar mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai bidang masing-masing. Di arena pertandingan, mereka harus menerjemahkan latihan menjadi keputusan dalam hitungan detik.
Satu gerakan dapat menentukan angka. Satu kesalahan dapat mengubah jalannya pertandingan.
Di sinilah olahraga menjadi ruang pembentukan karakter.
Pesilat belajar menerima kemenangan tanpa berlebihan dan menghadapi kekalahan tanpa kehilangan semangat. Mereka belajar bahwa lawan bukan sekadar orang yang harus dikalahkan, tetapi bagian dari proses untuk mengukur kemampuan diri.
Kejuaraan dengan peserta dari berbagai daerah juga memberikan pengalaman berharga bagi atlet ISI Surakarta. Mereka dapat melihat variasi gaya bertanding, membaca kualitas lawan, sekaligus mengetahui aspek yang masih perlu diperbaiki.
Dari Prestasi Menuju Pembinaan Berkelanjutan
Empat emas dan tiga perunggu tentu menjadi capaian yang layak diapresiasi. Namun, tantangan berikutnya justru lebih panjang.
Medali seharusnya menjadi titik evaluasi, bukan garis akhir.
Bagi pembina dan atlet, hasil pertandingan dapat menjadi bahan untuk melihat kekuatan teknik, kesiapan fisik, ketahanan mental, serta konsistensi latihan.
Terlebih, kompetisi nasional seperti Piala Panglima TNI memberi kesempatan atlet bertemu lawan dengan karakter dan pengalaman yang beragam.
Semakin sering atlet menghadapi pertandingan berkualitas, semakin banyak pula pengalaman yang dapat dibawa kembali ke tempat latihan.
Pencak Silat Bertemu Seni dan Pendidikan
Keberadaan tim pencak silat ISI Surakarta memiliki cerita tersendiri. Kampus yang dikenal sebagai institusi pendidikan seni memiliki ruang yang kuat untuk mempertemukan olahraga bela diri dengan nilai seni, disiplin tubuh, ekspresi gerak, dan budaya.
Pencak silat sendiri memiliki dua wajah yang saling melengkapi: kemampuan bertanding dan keindahan seni.
Nomor seni tunggal dan solo kreatif memperlihatkan bahwa kemampuan pesilat tidak hanya berkaitan dengan kekuatan fisik. Penguasaan gerak, ketepatan, kreativitas, penghayatan, dan konsistensi juga menjadi bagian dari penilaian.
Karena itu, prestasi ISI Surakarta di Manahan dapat dibaca lebih luas sebagai gambaran bahwa pendidikan, seni, olahraga, dan pelestarian budaya dapat berjalan dalam satu ruang yang sama.
Pada akhirnya, tujuh medali yang dibawa pulang bukan hanya deretan angka dalam daftar hasil pertandingan.
Ada nama mahasiswa. Ada nama kampus. Ada proses latihan. Ada keberanian untuk tampil. Dan ada harapan agar prestasi hari ini menjadi pijakan untuk menghadapi pertandingan berikutnya.
Piala Panglima TNI 2026 telah selesai. Namun bagi para pesilat ISI Surakarta, perjalanan sesungguhnya justru berlanjut setelah medali dibawa pulang: mempertahankan disiplin, memperbaiki kekurangan, dan membuktikan bahwa prestasi dapat tumbuh ketika talenta mendapatkan pembinaan yang konsisten (Ghoni)
Editor :JatengNews
Source : Humas PSHT