PSHT Peduli Mranggen menyalurkan tali asih bagi warga terdampak
PSHT Peduli Mranggen, Tali Asih Jadi Jembatan Pemulihan
Kepedulian pascaperistiwa: menempatkan aksi PSHT Peduli Jum'at, 11 September 2026.
SIGAPJATENG |SUKOHARJO — Pemulihan setelah sebuah peristiwa tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang, kehadiran untuk menyapa, mendengar keluhan, dan memberikan dukungan justru menjadi awal untuk mengembalikan rasa aman di tengah masyarakat.
Semangat itulah yang dibawa warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang tergabung dalam KOBARET (Komando Barisan Terate) Soloraya melalui kegiatan PSHT Peduli Mranggen–Polokarto, Jum'at, 11 September 2026.
Kegiatan tersebut dilakukan dengan mendatangi warga terdampak di Mranggen, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Mereka menyerahkan tali asih sebagai bentuk kepedulian sekaligus upaya membangun kembali hubungan sosial setelah peristiwa yang terjadi beberapa hari sebelumnya.
Aksi tersebut turut dihadiri tokoh masyarakat, Ketua RT, Ketua RW, serta bayan setempat.
Bagi KOBARET Soloraya, tali asih bukan sekadar bantuan material. Kehadiran mereka ingin menyampaikan pesan bahwa warga yang terdampak tidak berjalan sendirian menghadapi situasi sulit.
Dari Peristiwa Menuju Kepedulian
Sebelumnya, bentrokan antarkelompok pesilat terjadi di Desa Mranggen, Kecamatan Polokarto, pada Senin (7/9/2026) dini hari. Peristiwa tersebut menjadi perhatian masyarakat setelah sejumlah warga terdampak dan muncul kebutuhan untuk menjaga situasi agar tetap kondusif.
Rangkaian persoalan sebelum bentrokan juga telah ditangani melalui mekanisme kepolisian. Karena itu, setelah peristiwa terjadi, ruang kepedulian dan komunikasi menjadi penting agar persoalan tidak berkembang menjadi ketegangan baru.
Dewan Penasehat KOBARET Soloraya, Sriyanto, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari semangat persaudaraan sekaligus kepedulian kepada masyarakat.
Ia berharap peristiwa yang terjadi dapat menjadi pembelajaran bersama sehingga kejadian serupa tidak kembali terulang.
Tali asih yang diberikan memang tidak serta-merta menghilangkan seluruh dampak yang dirasakan warga. Namun, perhatian tersebut memiliki makna sosial karena menunjukkan adanya kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit.
Bayan: Koordinasi Jangan Diabaikan
Bayan Mranggen, Janto, mengapresiasi kepedulian KOBARET Soloraya. Ia berharap kejadian yang berdampak terhadap masyarakat tidak kembali terjadi.
Menurutnya, koordinasi dengan aparat keamanan penting dilakukan ketika masyarakat maupun kelompok tertentu hendak menggelar kegiatan.
“Kalau ada acara mohon koordinasi dengan aparat keamanan setempat supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan,” katanya.
Pesan tersebut menjadi catatan penting. Pencegahan persoalan tidak seharusnya baru dilakukan ketika situasi sudah memanas. Komunikasi dan koordinasi sejak awal dapat membantu memetakan potensi persoalan sekaligus menjaga kegiatan berlangsung aman.
Suara Warga: Jangan Ada Korban Lagi
Sementara itu, Warsito, salah seorang warga terdampak kerusakan, menyampaikan terima kasih atas perhatian yang diberikan. Ia berharap persoalan di masyarakat dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik.
“Bok yo ono perkara kuwi diomongne sing apik, sek dadi korban ora awak dhewe tok, wong sing ora ngerti opo-opo dadi korban,” ujar Warsito.
Pesan tersebut secara sederhana bermakna agar setiap persoalan dibicarakan dengan baik sehingga orang yang tidak mengetahui duduk perkara tidak ikut menjadi korban.
Suara warga itu memperlihatkan bahwa pemulihan tidak hanya menyangkut kerusakan fisik. Ada rasa aman, ketenangan, dan kepercayaan sosial yang juga perlu dikembalikan.
Persaudaraan Harus Hadir untuk Masyarakat
Aksi PSHT Peduli Mranggen–Polokarto menunjukkan bahwa organisasi masyarakat memiliki ruang untuk menghadirkan energi positif setelah sebuah peristiwa.
Persaudaraan tidak berhenti pada ikatan sesama anggota, tetapi dapat diwujudkan melalui kepedulian kepada lingkungan sekitar. Tali asih menjadi salah satu bentuk nyata untuk membangun kembali komunikasi dengan warga.
Di sisi lain, pesan yang muncul dari kegiatan tersebut juga menegaskan pentingnya koordinasi. Ketika sebuah kegiatan hendak digelar, komunikasi dengan lingkungan dan aparat keamanan perlu dibangun sejak awal.
Dari Mranggen, pesannya sederhana: ketika persoalan muncul, bicarakan dengan baik; ketika masyarakat terdampak, hadirkan kepedulian; dan ketika kegiatan hendak digelar, bangun koordinasi sejak awal.
Sebab, masyarakat membutuhkan ketenangan, bukan persoalan baru. Kepedulian yang tulus dan komunikasi yang terbuka dapat menjadi jembatan menuju pemulihan sekaligus menjaga persaudaraan tetap tumbuh di tengah perbedaan. (Ghoni)
Editor :JatengNews
Source : Humas PSHT