Singgih Januratmoko: Pendidikan Islam Harus Melahirkan Generasi Moderat dan Cakap Digital
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Singgih Januratmoko bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta, menggelar “Ngobrol Pendidikan Islam” atau Ngopi.
SURAKARTA -- Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Singgih Januratmoko bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta, menggelar “Ngobrol Pendidikan Islam” atau Ngopi. Kegiatan tersebut berlangsung pada 7-10 November 2025 di Hotel Syariah Solo, Surakarta, Jawa Tengah.
Kegiatan tersebut diikuti 1.000-an peserta, yang terdiri dari para guru madrasah, guru agama, akademisi, dan para santri, “Kegiatan ini harus memberikan pemikiran dan masukan untuk kemajuan pendidikan Islam. Kita semua tahu, umat Islam dengan pesantrennya memiliki andil besar mendirikan bangsa ini. Untuk itu, pendidikan Islam diharapkan mampu melahirkan lulusan yang memberi warna terhadap pembangunan nasional,” kata Singgih.
Ia mengingatkan, salah satu tugas utama dalam pendidikan Islam adalah menyejahterakan para guru madrasah. Namun di sisi lain, pemerintah memiliki keterbatasan dan prioritas, “Namun kami di DPR akan terus berupaya meningkatkan kesejahteraan guru madrasah, yang sejalan dengan peningkatan kualitas guru,” paparnya.
Singgih menegaskan pentingnya, percepatan transformasi pendidikan Islam di era digital. Pasalnya, pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membentuk karakter bangsa, namun harus bertransformasi agar mampu menjawab tantangan zaman.
“Pendidikan Islam harus mampu menjadi pelopor perubahan. Kita perlu menyiapkan generasi muda muslim yang berakhlak, moderat, dan cakap digital. Transformasi ini bukan sekadar penggunaan teknologi, tapi juga pembaruan cara berpikir, mengajar, dan berinteraksi,” ujar Singgih.
Lebih lanjut, politisi Golkar itu menjelaskan Komisi VIII DPR RI terus memperjuangkan penguatan ekosistem pendidikan keagamaan, termasuk melalui dukungan anggaran dan regulasi yang berpihak pada lembaga pendidikan Islam.
“Kami mendorong peningkatan kualitas madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi keagamaan agar menjadi pusat keunggulan ilmu dan moral. Kolaborasi dengan kampus seperti UIN Raden Mas Said adalah bagian dari langkah konkret itu,” tambahnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FIT) UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Fauzi Muharom mengatakan inisiatif Ngopi, merupakan upaya membuka ruang dialog konstruktif antara akademisi dan wakil rakyat, “Kami menyambut baik forum seperti ini. Para pemangku asas pendidikan Islam dapat berdiskusi langsung dengan pembuat kebijakan, sehingga gagasan tentang pendidikan Islam yang ideal bisa diwujudkan bersama,” tutur Fauzi.
Menurutnya, acara ini berisi beragam seminar yang tidak hanya ditujukan kepada para akademisi di kampus-kampus Islam, tapi juga menargetkan para guru. Dengan demikian tema-tema diskusi dibuat populer dan berkaitan dengan isu-isu terkini, yang dihadapi para guru.
Tema-tema yang dibawakan para pemateri, yaitu sosialisasi kurikulum berbasis cinta di madrasah, pencegahan perundungan dan perundungan siber, pendidikan inklusi pada perguruan tinggi, penguatan moderasi beragama, dan kehumasan di era digital untuk branding sekolah.
Acara Ngopi ini juga diisi dengan sesi diskusi interaktif, untuk menyerap aspirasi dari para peserta. Sebagai masukan Komisi VIII DPR RI yang menjadi mitra Kementerian Agama. Melalui kegiatan ini, Singgih berharap muncul sinergi berkelanjutan antara DPR RI, Kementerian Agama, dan perguruan tinggi Islam untuk mewujudkan pendidikan Islam yang maju, inklusif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Editor :JatengNews
Source : Jateng News